Anugerah Media – Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus Unpas ini menjadi magnet bagi mahasiswa dan masyarakat umum. Melalui lensa kamera, para fotografer muda ini berusaha memvisualisasikan perasaan-perasaan abstrak seperti kecemasan (anxiety), depresi, rasa kesepian, hingga perjuangan untuk bangkit dari trauma. Dalam setiap bingkai foto yang dipajang, tersirat pesan bahwa kesehatan mental adalah fondasi yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik, namun sering kali terabaikan dalam hiruk-pikuk tuntutan akademis dan sosial.
Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini sangat beragam, mulai dari teknik fine art hingga dokumenter. Beberapa foto menonjolkan penggunaan bayangan (shadow) yang kontras untuk menggambarkan kegelapan yang dirasakan oleh penderita depresi. Ada pula karya yang menggunakan teknik double exposure untuk melambangkan kekacauan pikiran dan suara-suara batin yang saling bertabrakan.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah potret seorang individu di tengah keramaian namun tampak buram dan terisolasi. Foto ini dengan apik menangkap fenomena “kesepian di tengah kerumunan” yang sering dialami oleh generasi muda saat ini. Dengan pemilihan warna-warna dingin dan monokrom, para mahasiswa berhasil menciptakan atmosfer yang menggugah empati, memaksa penonton untuk berhenti sejenak dan merefleksikan kondisi mental mereka sendiri maupun orang-orang di sekitar mereka.
Panitia penyelenggara menjelaskan bahwa tujuan utama pameran ini adalah untuk memutus rantai stigma negatif terhadap pengidap gangguan kesehatan mental. Di Indonesia, isu kesehatan mental sering kali masih dikaitkan dengan kurangnya iman atau sekadar “kurang bersyukur”. Melalui pameran ini, Unpas ingin menunjukkan bahwa apa yang dirasakan secara mental adalah valid dan nyata.
Pameran ini juga dilengkapi dengan deskripsi cerita di setiap fotonya. Deskripsi tersebut berfungsi sebagai jembatan informasi, menjelaskan latar belakang emosional yang ingin disampaikan fotografer. Dengan demikian, pameran ini bertransformasi menjadi ruang edukasi publik. Pengunjung diajak untuk memahami bahwa mencari bantuan profesional ke psikolog atau psikiater bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk pulih.
Selain tampilan visual, pameran fotografi ini juga menyediakan pojok refleksi, di mana pengunjung dapat menuliskan perasaan mereka secara anonim pada secarik kertas dan menempelkannya di papan aspirasi. Hal ini menciptakan interaksi dua arah yang hangat. Banyak pengunjung merasa terwakili oleh karya yang dipamerkan, merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi badai mental yang sedang dialami.
Kegiatan ini membuktikan bahwa institusi pendidikan seperti Universitas Pasundan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran sosial. Seni fotografi digunakan sebagai alat advokasi yang efektif karena mampu menyentuh sisi emosional manusia dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh teks statistik semata.
